Double Headed Bird

Burung berkepala dua >> Versi Bahasa Indonesia klik disini

Mendut Fable from Central Java

At the Borobudur temple complex in Central Java, there are a number of temples. One of the temple named Mendut. In this temple there is a relief depicting a two-headed bird. The head of the upper head eats a ripe fruit, while the lower head looks limp.

This relief taken from a fable (story of animals) that describes the message about the gap and disregard of the "top" group towards the "bottom." Although the story told by animals characters, it represents the message for humanity.

It Narrated a bird with a body, a pair of wings, a pair of legs and have two heads. The upper head, because of its position, could eat fresh, ripe and delicious fruits every day. And lower head just eat the remains of the fallen from the beak of the upper head. If not, it will take what its found.

The lower head told that it also wanted to had the opportunity to get a good meal, and asked the upper head to share. The protest by the lower head had been ignored, and upper head continued to make fun with the food.

"You don't need to protest. Isn't that the fruit that I eat is also fill in the same stomach?" said the upper head.

The lower head was desperate and took what it found. Until one day, it ate a poisonous mushroom and died. So, in the end the two-headed bird died.

MORAL MESSAGE : This story illustrated the social life of human beings that portrait the gap and the attitude that unwilling to share although living in "one body" in a society. The message conveyed that if the "upper head" ignored "lower head", then we would be symbolized as two-headed bird that die together.

--------------------------------------@@@@@@@@@--------------------------------


Burung Berkepala Dua

Dalam komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah terdapat sejumlah candi di antaranya adalah Candi Mendut. Di candi ini terdapat sebuah relief yang menggambarkan seekor burung berkepala dua dan kepala bagian atas tengah memakan buah yang ranum, sementara kepala bawah terlihat lunglai.

Relief ini diangkat dari fabel (ceita dunia binatang) yang menggambarkan pesan tentang kesenjangan dan ketidak-pedulian kelompok "atas" terhadap kelompok "bawah." Meskipun tentang binatang, kisah yang disampaikan dalam fabel tersebut adalah tentang manusia dan pesannya ditujukan pada manusia.

Dikisahkan demikian. Seekor burung dengan badan satu, sayap sepasang, kaki sepasang dan memiliki kepala dua. Kepala yang atas, karena posisinya, setiap hari bisa memakan buah-buah yang segar, ranum dan lezat. Dan kepala yang bawah hanya memakan sisa-sisa yang terjatuh dari paruh kepala atas, itupun kalau ada. Kalau tidak, dia akan memakan apa yang ditemukan.

Kepala bawah mengajukan usul agar dia juga berkesempatan untuk mendapatkan makanan yang baik, dan meminta kepala atas untuk berbagi. Protes yang diajukan oleh kepala bawah tidak dihiraukan, dan kepala atas terus bersenang-senang dengan makanannya.

“Tidak perlu kamu protes. Bukankah buah yang aku makan juga masuk dalam perut yang sama?” kata kepala atas.

Kepala bawah yang putus asa lalu memakan apa saja yang ditemuinya. Sampai suatu kali dia memakan jamur beracun, maka matilah dia, matilah burung itu, matilah dua kepala itu.
zienenweten.blogspot.com

Kisah ini menggambarkan kehidupan sosial manusia yang diwarnai kesenjangan dan sikap yang enggan berbagi, padahal hidup dalam "satu tubuh" sosial. Pesan yang disampaikan adalah jika “kepala atas” mengabaikan “kepala bawah”, maka secara sosial kita akan menjadi burung berkepala dua yang mati bersama-sama.

Editor : Sabar Subekti

source: www.satuharapan.com

New Video: Panyalahan Village

Indonesian Folklore Thumbnails

VIEW FOR MORE IMAGES BELOW

THUMBNAILS 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Popular Posts